Why I love Singapore?

25 Sep '14

Setelah ngeliat pasport, ternyata saya lumayan juga sering nengokin kota ini. Dalam 2 tahun belakangan ini aja kalau dirata2 tiap 3 bulan sekali ke sini.

Bosen? Ngga tuh…

Ternyata, setelah sedikit perenungan (sepertinya) karena kota ini menyimpan banyaaak banget cerita dan kenangan dalam hidup saya.

1. Pertama kali ke luar negeri tahun 1982 ya ke sini bareng orangtua dan kakak saya (adik bungsu saya belum lahir). Waktu itu usia saya 5 tahun dan saya senang bukan main menginjakkan kaki di luar Indonesia. Yg keinget adalah, saya masuk ke mall2 besar dan banyaaak banget pernak-pernik lucu dan barang2 Sanrio kesukaan saya, terutama karakter favorit saya: Little Twin Star. Buat saya saat itu bagai surga *taelaah*.

2. Kakak saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Singapore saat SMA dan menetap di sini 3 tahun (1991-1993). Walau kami sering berantem, saya kehilangan mba Wenni, beliau yg jadi panutan saya sehari2. Melihat kiprahnya di usia 15 tahun hidup sendiri di negeri yg penuh orang2 kiasu (baca: “ngotot”, ambisius dan workaholic) dalam meraih prestasi dan penuh persaingan, saya berempati dengan kehidupannya. Mendengar telpon di rumah berdering setiap hari darinya, sekedar untuk dengar suara orangtua saya dan ia menangis karena beratnya menjalani skenario Allah SWT yg ngga diduga sebelumnya (ibu saya iseng mengirimkan aplikasi beasiswa dan ngga diduga kakak saya lolos dengan serangkaian tes).

Jadilah kami sekeluarga sering bergantian berkunjung ke Singapore menjenguk Mba Wenni. Menguatkannya bahwa ia mampu melewati fase baru dalam hidupnya.

Tiap kunjungan singkat ke sini, selalu diakhiri dengan derai tangis Mba Wenni yg harus berkutat lagi menjalani sekolahnya dengan teman2 barunya, tanpa ditemani keluarga.

3. Pacar saya *swuwuiiit* waktu itu (yg sekarang jadi suami saya, Triadi Joko) mendapat kesempatan untuk kerja praktek di Singapore selama 7 bulan.

Tahun 1999, di usia ke-4 tahun kami pacaran, Mas Jo (begitu panggilan saya sekarang padanya) praktek kerja di Hotel Mandarin, Orchard. Sebagai pasangan remaja yg lagi senengnya berdua2an, tentulah berjauhan dengannya jd sebuah tantangan *ceileeeh*. Inget banget, setiap seminggu sekali saya ke Wartel untuk menelponnya, dan bergantian menunggu deringan telpon darinya di waktu yg sudah kami sepakati bersama.

Dan betapa senangnya saat orangtua saya menawarkan saya berlibur ke sini untuk menjenguknya selama beberapa hari (tahun 1999).

4. Dalam 2 tahun belakangan ini, kakak saya yang menetap di Sydney dan saat ini sedang bekerja di Jakarta, setiap 3 bulan sekali punya kepentingan kerja mengunjungi kota ini. Dan jadilah saya sering diajak untuk menemaninya.

5. Selain ke-4 alasan tadi, saya merasa kota ini sangat tourist friendly. Kemana2 gampang, ga bakal kesasar dan bikin panik untuk seorang saya yg sangat2 butuh perencanaan sebelum melaksanakan apa pun. Bersih, tertib, trotoar yg sangat amat nyaman buat pejalan kaki (dan saya penyuka jalan kaki -dan kini lari). Walau kota kecil, tapi selalu ada aja yang baru dan menyenangkan untuk diliat dan dinikmati.

Dan hari ini, saya kembali ke Singapore dengan mantan pacar yang saya sebutkan di no. 3. Terlebih lagi, yang membuat perjalanan kali ini istimewa adalah…. saya akan tinggal di hotel tempat saya menginap di cerita no. 1, no. 2 dan no. 3 di atas. Namun hotel tersebut kini sudah direnovasi menjadi hotel baru. Dulu namanya hotel Phoenix (berdiri 1975 dan ditutup sejak 2007 untuk renovasi besar2an), dan kini menjadi hotel Jen (yang baru saja dibuka lagi 15 September 2014 lalu).

Jadiii… dengan “segudang” kenangan tadi menyadarkan saya bahwa kota ini memang menyimpan kenangan dan jejak2 penting dalam hidup saya.

That’s why I love this city.

Singapore, I’m back! Let’s have some fun ☺☺☺

Alhamdulillah…

No comments yet

Leave a Reply