Sekelumit Kisah di Balik Konser David Foster

18 Feb '12

Semalam, baru saja saya dan suami menyaksikan pertunjukkan spektakuler kelas dunia. Hmmm, sebenarnya dibilang luar biasa hebat dari keseluruhan aspek sih ngga juga. Dari segi panggung, cahaya, tata letak, artistik, pemilihan kostum, dsb-nya ngga ada yang istimewa. Tetapi, yang membuatnya terbilang sangat istimewa karena karya-karya David Foster yang ngga ada duanya. Semua lagunya indah-indah banget. Ngga salah kalau dia disebut Hit Man. Maaf sedikit lebay, tapi berkali-kali saya merinding dan meneteskan air mata, merasakan keindahan yang luar biasa sampai saya rasa di dasar hati saya (bener kan lebay? Tapi ini nyata!)

Sedikit kilas balik, awalnya tiket dijual sekitar bulan Juni 2011. Saya memang belum yakin untuk menonton, makanya baru tergerak membeli tiket setelah konser sudah mau dekat. Satu setengah bulan sebelum pertunjukkan David Foster yang berlangsung Jumat malam, 28 Oktober 2011, sekitar pertengahan September, saya berusaha kasak kusuk kesana kemari mencari tiket tribun yang ternyata sudah habis di tiket box manapun. Yang tersisa hanya kelas silver ke atas. Huhuhu…. Atas saran adik saya yang katanya di situs kaskus segala pasti ada, akhirnya saya mencari tiket di situs itu. Memang benar, banyak penawaran tiket tribun. Saya pun segera mengkontak meallui email, sms dan bbm semua orang yang masih menjual tiket Om David berdasarkan info di kaskus. Selesai mengirim email/sms/bbm ke semua penjual untuk meminta kepastian harga, ternyata ada 3 penjual tercepat yang merespon, dan semua menawarkan dengan harga yang sama. Ya, ternyata semua menjual dengan harga yang lebih tinggi dari harga asli. Dengan gaya bahasa serupa, mereka mendorong saya untuk segera konfirmasi jika mantap membeli, karena permintaan tinggi dan bisa jadi segera habis jika tidak segera melakukan transaksi. Saya tawar mati-matian, ke-3 penjual tetap kekeuh dengan harga yang sama (hmmm apa mereka janjian ya? Hehehe…). Jadi mau beli yang manapun dari 3 penjual ini, ngga ada bedanya donk ya? Walau bahasanya saat tawar menawar mirip-mirip (maklum, pasti karena mereka semua sesama penjual), berdasarkan feeling, saya akhirnya menjatuhkan pilihan ke salah satu penjual, namanya Fiar.

Pada waktu yang telah kita tentukan, saya dan Fiar sepakat bertemu di food court PIM untuk transaksi. Setelah bertemu, saya baru tahu bahwa Fiar adalah anak lelaki berusia 19 tahun, kuliah tingkat 3 di Universitas Nasional jurusan HI. Penampilannya gaya khas remaja ABG, memakai sweater dan celana jeans belel, rambut agak gondrong dan acak-acakan, membawa tas ransel dan memakai sepatu kets. Kami mengadakan pertemuan untuk transaksi pagi hari, sekalian Fiar mau kuliah setelah itu. Ngobrol panjang lebar tentang konser musik di Indonesia dan awal kiprahnya menjadi penjual tiket (atau kalau saya bilang calo terhormat karena ngga pernah melakukan penjualan di tempat konser. Ia selalu menjual sebelum hari H konser dan bertemu dengan calon pembeli di tempat umum). Selama perbincangan membuat saya berdecak kagum dalam hati dan juga mengemukakan langsung ke Fiar betapa hebatnya ia. Bayangkan, di usia 19 tahun ia sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri dari berbagai bisnis sana sini yang dijalankannya. Ia juga punya usaha denim (bahan jeans), dan sekarang sedang membuat “pabrik” kecil-kecilan untuk usahanya itu. Ia bilang, bulan lalu keuntungan bersih dari menjual tiket konser Rp. 10 juta. Dengan keluguan dan gaya bicara khas ABG, ia bercerita betapa semangatnya ia melanjutkan kuliah sampai S2 dan bercita-cita jadi diplomat. Sadar berasal dari keluarga yang jauh dari mampu, ia giat mencari tambahan penghasilan. Dari hasil usaha menjual tiket, ia juga baru saja membeli gerobak untuk berjualan nasi kucing. Ckckckckck….. benar-benar 4 jempol buat Fiar! Di usia semuda itu, ia sudah memikirkan bagaimana cara bisa membeli rumah di kawasan elit seperti Pondok Indah. Dan obrolan ngga hanya seputar musik atau bisnia yang digelutinya, Fiar pun cerita tentang pergaulan anak kampus jaman sekarang dan juga cewek yang sedang di CCPin-nya. Hahaha… dari sekedar beli tiket jadi ngobrol ngolar ngidul.

Singkat cerita, setelah pertemuan itu beberapa kali Fiar sering mengirim bbm ke saya untuk menawarkan tiket-tiket lain dan juga ngobrol seru-seruan tentang kehidupannya, termasuk rencana “nembak” saat konser David Foster nanti berbekal tiket 2 silver yang didapatkan Fiar gratis dari temannya di BlackRock Entertainment (penyelenggara konser David Foster di Jakarta).

Beberapa minggu setelah pertemuan dengan Fiar, saya menerima sms, isinya menawarkan tiket David Foster dengan harga resmi. Dalam sms tersebut, si penjual (anggap saja namanya X, yang sebenarnya dia juga tidak menyebutkan nama di sms tersebut) bilang kalau ia tidak jadi menonton, daripada tidak terpakai jadi mau dijual saja. Didorong perasaan pengen untung, saya langsung mengadu melalui bbm ke Fiar, saya bilang ada yang menawarkan tiket harga resmi Om David nih! Sayangnya gue udah beli tiket ke elo duluan. Kalau aja belum, pasti gue akan beli yang itu. Ternyata, Fiar yakin bahwa X penipu. Dengan modus yang sama, beberapa hari lalu ia baru saja tertipu Rp. 3 juta untuk membeli tiket Westlife (yang tadinya berniat mau Fiar jual kembali). Saya dan Fiar pun jadi penasaran, apa ia yah X adalah orang yang sama dengan penipu Fiar? Dari segitu banyak penipu, masa iya bisa pas? Tergerak menyelidiki, no hp X saya berikan ke Fiar. Selanjutnya Fiar ingin membuktikan penasarannya. Fiar pura-pura bertindak sebagai pembeli tiket Om David. Karena kalaupun benar tiket dijual dengan harga resmi, Fiar selanjutnya bisa menjualnya lagi dengan harga lebih.

Berhasil menghubungi X, Fiar membuat janji bertemu dengan X di Slipi. Sesuai cerita dari Fiar, karena yakin X adalah penipu, maka Fiar sudah menyiapkan pasukan. Saat janji bertemu, Fiar mengajak beberapa staf Raja Karcis yang bisa membedakan tiket asli dan palsu. Benar saja, ternyata X adalah orang yang sama dengan yang menjual tiket Westlife palsu pada Fiar sebelumnya. Pertemuan X dan Fiar awalnya diwarnai adu mulut, karena Fiar marah menuntut uangnya kembali. X tidak terima dan malah memarahi balik, dan setelah itu X pun seperti mau lari. Untung saja, Fiar segera memanggil pasukannya (yang sebelumnya tidak ikut bertemu X, tapi menunggu tidak jauh dari situ). Aksi kejar-kejaran pun terjadi, dan berakhir dengan berhasil membawa X ke kantor polisi. Di sana, dibuatlah berita acara dan nama saya sering disebut-sebut Fiar sebagai narasumber yang memberikan nomor hp X dan yang secara tidak langsung membuat pertemuan antara Fiar dan X terjadi. Bahkan kata Fiar, saya sebenarnya diminta kedatangan di kantor polisi sebagai saksi penerima sms penipuan. Selama proses pemeriksaan ternyata ditemukan barang bukti di dalam tas X sejumlah tiket-tiket palsu. Singkat cerita, X akhirnya ditahan sementara dan dikenakan pasal tertentu atas kasus penipuan.

Sebagai pelapor kasus penipuan, Fiar selalu mengabari saya dengan proses yang sedang dilewatinya. Lewat bbm, kami berdua pun tidak menyangka bahwa sampai panjang begini lanjutannya. Kok yang terjadi seperti film aja yah? Bisa menangkap penipu dari hal yang sama sekali ngga kita rencanakan. Mengingat-ingat bahwa awal perjumpaan saya dengan Fiar hanya sebatas penjual-pembeli. Dari beberapa penjual, kenapa saya menjatuhkan pilihan membeli ke Fiar yang mana saya pun tidak tau penjual lain seperti apa? Mengapa Fiar banyak cerita kehidupan pribadinya pada saya? Mengapa saya asyik mendengar ceritanya yang sangat murni khas ABG? Mengapa bisa pas banget X ini adalah orang yang sama dengan yang menipu Fiar? Mengapa saya terdorong cerita ke Fiar saat ada orang yang sms saya menawarkan tiket dengan haga asli? Benar-benar kebetulan yang berujung tertangkapnya penipu penjual tiket.

Hmmm, tunggu… Kebetulan? Is there really such thing as a coincidence? I think, there is no such thing as coincidence. Alam semesta yang segini banyak isinya dengan segala pengaturan tata surya pun ada pembuat skenarionya. Apalagi bagian dari hidup manusia yang hanyalah bagaikan setitik air dibanding samudera yang luas. Pastilah DIA berperan. Mungkin terdengar “kuno”, tapi saya percaya penuh bahwa everything happens for a reason. DIA adalah pengatur segala rencana manusia di muka bumi ini. Tugas saya menerima peran yang diberikanNYA, dan juga sekaligus menjadi sutradara bagi hidup saya, dengan menjalankan yang terbaik yang saya mampu.

Bagi saya, saya dipertemukan dengan Fiar agar banyak belajar dari seorang anak muda yang luar biasa hebat. Mungkin bagi Fiar (mungkin ya, karena saya ngga tau apa yang dirasakan di dalam hatinya), ia dipertemukan saya agar menambah tabungan kuliahnya dari tiket yang saya beli, sebagai perantara yang pada akhirnya mempertemukannya dengan orang yang dia benci, si X karena telah menipunya, atau apapun itu. Mungkin bagi X, ini adalah bagian skenarioNYA untuk tidak mengulangi penipuannya. Entahlah…. Apa rencana sesunguhnya dari DIA pun hanya DIA yang tahu. Dan sebagai YANG MAHA, DIA pasti ngga pernah salah merancang sesuatu. Kita sebagai manusia sering kali belum tahu (mungkin tidak pernah akan tahu) bagaimana skenarioNYA berakhir, bagaimana akhir ceritanya? Karena saya yakin, apapun, siapapun, situasi apapun adalah bagian dari rancangan indahNYA, SANG MAHA SEMPURNA.

 

Alhamdulillah, melalui kedua orangtua saya, saya sudah dipercaya hadir di muka bumi dan mendapatkan peran dengan skenario yang KAU buat.

No comments yet

Leave a Reply