New Year’s Day: Just Another Day (Sebuah Renungan, Harapan & Doa)

22 Feb '12

Memasuki hari pertama di tahun baru (sebenarnya) sama seperti bergantinya hari di hari-hari lain? Itulah pertanyaan yang terlintas di benak saya. Masa iya sih sama seperti hari lain, soalnya untuk ketemu moment itu kan melewati perjalanan yang (cukup) panjang. Bayangkan, harus menunggu 365 (atau 366 hari di tahun kabisat) untuk tiba di pergantian tahun. Hmmm… memang bukan waktu yang sebentar. Ratusan, ribuan, jutaan atau bahkan milyaran umat manusia di jagad bumi ini pun tentunya melakukan “ritual” yang ngga dilakukan di hari lainnya. Ya, mengganti kalender! Buat sebagian pekerja di bidang tertentu, menjelang pergantian tahun pun dihadiahi dengan tugas seperti tutup buku, membuat laporan akhir tahun, menghitung neraca, dsb. Ngga cuma itu, pergantian hari masuk ke tahun baru buat banyak orang adalah saat tepat untuk merenung dan introspeksi diri yang dilalui setahun sebelumnya. Juga waktu untuk tepat membuat resolusi baru.

Terusik dengan pemikiran dimana sungguh istimewa kedudukan si Tahun Baru ini, di sisi lain pikiran saya pun sedikit memberontak. Soalnya yang namanya introspeksi dan membuat resolusi mestinya bisa dilakukan kapan saja. Ngga perlu menunggu ganti kalender. Saya pun meragu, kalau memang istimewa mestinya ada perubahan yang nampak signifikan. Nyatanya, dengan pergantian tahun itu ngga ada tuh perubahan instan yang saya temukan. Kalender memang berganti, tapi para manusia yang sudah punya segudang resolusi pada pergantian tahun ngga serta merta berubah jadi orang yang berbeda. Juga ngga seperti layaknya sulap yang bisa langsung berubah hanya dengan mantera “simsalabim”. Setiap pergantian dari 31 Desember menjadi 1 Januari tepat pukul 00.00 pun rasanya yang paling menonjol secara kasat mata adalah seputar perayaan kumpul bersama, suara terompet, ucapan selamat sana sini serta kemeriahan-kemeriahan lainnya. Buktinya, semua stasiun TV membuat acara khusus menyambut tamu kehormatan, si Tahun Baru.

Huaaaah….. Saya terus terang jadi sulit memformulasikan tentang si Tahun Baru ini. Tetap dengan pertanyaan yang sama: apakah Tahun Baru (sebenarnya) hanya sekedar pergantian hari seperti hari-hari lainnya? Atau ia memang benar-benar spesial? Tapi entah mengapa, sulit untuk menolak anggapan di pilihan kedua. Karena nyatanya si Tahun Baru ini memang diistimewakan banyak orang. Buat saya pribadi, saat teringat tahun akan berganti, entah mengapa juga selalu ada perasaan atau nuansa berbeda yang dirasakan.

Akhirnya saya pun menyudahi pergulatan di atas. Terlepas apakah Tahun Baru ini istimewa atau sekedar pergantian hari saja, pastinya yang namanya sesuatu yang baru biasanya membuat antusiasme. Sesuatu yang baru menjadi menarik karena manusia yang menjalankannya akan menerka-nerka apa yang akan didapati. Layaknya sebuah kado, membuat yang menerima senang, walaupun belum tahu apa yang ada di dalamnya.

Sesuatu yang baru juga biasanya diikuti dengan harapan atau doa. Aha… , itu dia!!! Tahun baru identik dengan harapan. Harapan untuk mewujudkan mimpi, harapan memperbaiki hal yang masih dianggap kurang atau belum kesampaian, dan segudang harapan-harapan lain yang sejalan dengan doa yang kita panjatkan.

Begitulah perenungan singkat saya. Apapun makna orang mengenai tahun baru, apakah mau dirayakan secara istimewa atau dianggap biasa saja seperti layaknya hari-hari lainnya, mari kita liat sisi positifnya. Ya, harapan kan sebuah hal yang positif. Karena berawal dari harapan-lah, yang selanjutnya akan menggerakkan orang berusaha mewujudkan impiannya.

Hope fuels the engine, hope brings light to a dark day, and hope is the key to making your dreams becomes that reality. Hope is the imagination of the mind (Arthur Buchanan’s quotes)

So, let’s live this year and see what it brings for us!

Happy New Year 2010

Semoga kita semua selalu diberkahi olehNYA, dikaruniakan kondisi sehat jasmani rohani, diliputi kebahagiaan, dilimpahkan rejeki halal, kaya lahir bathin, semakin sukses meraih mimpi dan dalam semua hal yang kita kerjakan, serta mampu menjadi pribadi, masyarakat, bangsa, negara dan hamba Allah s.w.t yang selalu mau dan mampu memperbaiki diri, berguna bagi diri sendiri, lingkungan dan orang banyak. Amin ya Rabbal Al Amin….

Hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies (The Shawshank Redemption, 1994).

(Tulisan yang terinspirasi saat membaca, mendengar, melihat dan merasakan banyaknya pernyataan dan perayaan yang mengistimewakan kedudukan Tahun Baru, namun banyak juga yang belum berkesempatan/tidak mau/tidak bisa merayakannya atau pun “hanya” memaknainya sebagai pergantian hari semata.)

*ditulis pada 31 Desember 2009, dan sudah tampilkan di Facebook

No comments yet

Leave a Reply