Mendongak atau Menunduk?

18 Feb '12

Fakta 1:

Seorang wanita, yaitu teman lama saya bercerita kalau ia merasa bosan dengan hidupnya yang tidak punya banyak kesibukan seperti kebanyakan orang. Usahanya sudah mapan, anak-anak sudah beranjak besar, suaminya kurang memberikan kasih sayang (menurut versinya) karena sering pulang malam, sudah ngga pernah memperlihatkan perilaku romantis, dan setiap mengajak pergi selalu atas inisiatifnya. Dalam beberapa kali ceritanya, sering ia merasa kurang dengan hidupnya. Kurang bahagia, kurang menarik (hal ini juga yang membuatnya sering mondar mandir ke klinik perawatan kecantikan), sudah ngga punya sesuatu lagi yang ingin dicapai dalam hidupnya, dan banyak lagi. Tambahan info, ia tinggal di perumahan yang tergolong elit di Jakarta. Suaminya berprofesi sebagai pengusaha dengan latar belakang keluarga yang bisa dikatakan sangat berlebih secara materi dan orangtua yang mantan petinggi di sebuah perusahaan negara.

Fakta 2:

Sepasang suami istri berusia 80 tahun berjualan sate dan gule di Jl. Asia Afrika Bandung. Mereka berdagang sejak tahun 1950, yang berarti sudah 61 tahun berjualan hingga saat ini. Dari perbincangan sesaat, mereka bercerita bahwa tempat mereka berjualan saat ini adalah lokasi ke sekian kalinya berdagang karena sudah sering kali digerebek petugas keamanan (Kamtib). Mereka mengemukakan bahwa mereka senang dengan apa yang mereka jalankan. Dari situ sudah banyak yang bisa mereka lakukan untuk hidup keluarganya, yaitu menyekolahkan anak-anak dan tidak khawatir tiap hari mau makan apa, karena pasti tersedia dari dagangannya. Apalagi kalau tidak habis, pastinya makanan menjadi berlimpah harus segera dihabiskan jika bahan dasarnya sudah tidak bisa menunggu lebih lama. Setiap hari mereka menyiapkan dagangan sejak shubuh dan terus berlanjut hingga malam hari. Selama bercerita, tidak ada satu kalimat pun yang isinya mengeluh. Saat menghidangkan makanan pada para pembeli, mereka juga tidak lupa mengulas senyum tipis dan mengucapkan terimakasih atas kesediaan pengunjung “mencicipi” masakan mereka .

Subhanallah…. Allah swt sudah menciptakan manusia dengan segala pertanda yang luar biasa banyak, termasuk dalam anatomi tubuh kita. Mencoba terus mendongak leher, yang terasa pegal, jalan juga banyak kesandungnya. Mencoba terus menundukkan leher, juga terasa pegal, jalan pun jadi ketabrak sana-sini. Idealnya, jalan lihat ke depan. Sesekali lihat ke atas buat menikmati langit atau pelangi. Dan sesekali lihat ke bawah biar ngga kesandung.

Syukur. Titik. Ngga perlu perbandingan ke atas atau ke bawah. Merasa berkecukupan dan bersyukur.

Alhamdulillahi Rabbil Al Amiiin.

Love,

Wesmira Parastuti Mia

Hamba Allah yang mudah2an ingat selalu & berdoa untuk terus bersyukur, kapan pun, di mana pun. Amin!

No comments yet

Leave a Reply