Ungkapkan dengan Kata-kata

22 Feb '12

I love you. Please forgive me. I care about you. Seberapa seringkah Anda mengungkapkan hal ini? Tidak hanya terbatas hubungan yang sifatnya romantis atau kepada pasangan, tapi kepada setiap orang yang menurut Anda memiliki ruang di hati Anda.

Apakah Anda juga memperhatikan bahwa sering kali ekspresi dari dalam hati dan wujud cinta kasih banyak diekspresikan dalam bahasa asing? Coba kini 3 kalimat di awal tersebut diterjemahkan menjadi Bahasa Ibu kita, Indonesia: saya cinta kamu, saya mohon maaf, saya memperhatikan kamu. Bayangkan, jika kalimat itu Anda ungkapkan pada seorang teman yang sedang melewati masa sulit, menunjukkan betapa besar kasih sayang pada orangtua kita, memohon maaf terlebih dahulu pada tetangga yang seringkali membuat kita kesal, dan sebagainya.

Mengungkapkan kalimat yang terkesan sangat manis dan melibatkan unsur emosi sepenuh hati memang bukanlah perkara mudah. Banyaknya ekspresi dalam bahasa asing secara tidak langsung menunjukkan bahwa budaya mengungkapkan tersebut bukan sepenuhnya berakar dari budaya bangsa Indonesia. Coba tengok kartu-kartu ucapan lebih banyak dihiasi dalam Bahasa Inggris. Dalam percakapan sehari-hari, tanpa disadari kita sering kali mencampur padanan kata Bahasa Indonesia menjadi bahasa asing jika merasa sulit menemukan ekspresi yang pas. Bisa jadi hal ini karena dalam kebiasaan sehari-hari masyarakat Indonesia penuh tata krama, sopan santun, dan menghormati. Budaya Indonesia yang positif tersebut di sisi lain sering kali terwujud dalam pribadi yang cenderung kaku dan membuat pemilihan kata sangat hati-hati. Contoh, dalam Bahasa Indonesia saat menyebut diri sendiri (saya) dalam lingkungan yang bebeda bisa beragam, yaitu gue untuk teman sebaya dan dalam pergaulan santai, saya untuk formal, dan sebagainya. Sedangkan bisa dikatakan hanya ada 1 kata penyebutan diri dalam Bahasa Inggris, yaitu I (me), di manapun lingkungannya. Inilah yang membedakan dan sering kali membuat “jarak” dan kekakuan terbentuk dalam lingkungan yang berbeda-beda.

Tanpa mengurangi apresiasi terhadap budaya leluhur yang luar biasa beragam dan memiliki nilai positif, kenapa tidak kita serap juga hal dari luar yang memiliki manfaat. Mengungkapkan isi setulus hati diliputi muatan kasih dan kejujuran memiliki dampak positif bagi si pengungkap, yaitu: rasa lega, mengembangkan welas asih, pemahaman diri lebih tinggi karena mampu merefleksikan apa yang dirasakan, mengisi diri dengan energi positif. Ya, prinsip alam “apa yang ditanam itulah yang dipetik” tentu berlaku. Rasakanlah saat mengekspresikan hal positif, pasti energi positif pun akan berbalik pada Anda. Sedangkan efek bagi orang yang menerima ungkapan tentu bisa bermacam-macam, karena apa isi hati dan rasa orang lain tidak bisa kita terka. Namun minimal dengan mengungkapkan, si penerima jelas dan mendengar langsung apa yang diungkapkan. Energi positif yang disampaikan melalui ekspresi kalimat langsung diharapkan mampu tertransfer pada di penerima, apapun bentuk responnya. Ya, respon pasti dari tiap orang tidak bisa kita tentukan, yang lebih penting adalah diri kita sendiri yang memiliki niat mengekspresikan ketulusan hati dengan sejujurnya.

Yuk, coba kita mulai melatih kelenturan emosi positif dan mengungkapkannya. Jangan lewatkan waktu untuk menunjukkan cinta kasih Anda pada orang-orang sekitar Anda. Pasangan, anak, orangtua, sanak kerabat, rekan kerja, tetangga, atau siapapun. Tidak ada kata terlambat, namun seberapa segera kita akan memulainya? Karena apakah nanti, besok atau lusa kita masih punya kesempatan dan waktu untuk menunjukkannya? Tidak ada yang bisa menjamin berapa lama kita diberi kesempatan untuk bernafas.

Mari berbagi energi positif, dan Anda pun selalu dikelilingi hal yang positif di hidup Anda.

*tulisan sudah dimuat di website LG Indonesia 21 November 2011

No comments yet

Leave a Reply