Melatih Rasa Syukur dalam Keluarga

21 Jun '12

Kehidupan kompleks, kemajuan jaman, keberagaman orang dan pendapat sering kali menimbulkan konflik dan keruwetan tersendiri yang bisa membuat manusia merasa terancam dan tidak nyaman. Jika kita diberi pertanyaan hal apa yang mampu membuat kita (lebih) bahagia, apa jawabannya? Banyak para ahli yang merumuskan bermacam jawaban, antara lain penulis buku The How of Happiness memilih dengan cara berolahraga sebagai pemicu kebahagiaan. Martin Seligman penulis buku Authentic Happiness and Flourishing dengan cara berbuat baik. Jawaban favorit saya adalah: bersyukur! Saya percaya, bersyukur adalah dasar dari berkembangnya kebahagiaan pribadi dan juga masyarakat sekitar, yang mana keduanya sulit dipisahkan. Jika para orangtua ingin menjadi insan yang  bahagia yang otomatis menumbuhkan rasa bahagia dalam keluarga (anak), maka cobalah mempraktekan rasa syukur, secara sengaja dan konsisten.

Sering kali bersyukur lebih identik dengan rasa karena memiliki, padahal yang lebih tepatnya adalah menghargai. Dengan memiliki, biasanya di dalamnya terdapat harapan. Saat harapan yang ingin kita gapai tidak menjadi bagian dari diri, yang ada muncul rasa kecewa. Saat itu muncullah kurangnya rasa bersyukur . Kecewa bukanlah bagian dari bahagia. Bersyukurlah kunci kebahagiaan. Karenanya, sebagai orangtua Kita perlu membangun ritual dan tradisi yang membuat Kita dan seluruh anggota keluarga mampu berperasaan dan mengungkapkan kebiasaan bersyukur. Di bawah ini terdapat 3 hal untuk melatihnya, menurut Christine L. Carter, Ph.D. in Raising Happiness:

  1. Dalam acara perayaan (misal ulangtahun, hari besar seperti hari ibu, perayaan keagamaan, dan sebagainya) cobalah menuliskan ucapan di kartu. Libatkan anak membuat kartu dan sertakan ucapan terimakasih atau hal yang dihargainya. Misalnya, ucapan dari Kita ke buah hati: “Selamat belajar di sekolah, Nak! Mama bangga setiap hari kamu ikut semangat membantu Mama memyiapkan bekal makan siang ke sekolah.” Latihan ini membuat anak merasa dicintai, dan membantu mengekspresikan cintanya pada orang lain.
  2. Beberapa kali dalam seminggu, cobalah mencari gambar atau pemkitangan yang disukai bersama, misalnya gambar di majalah, tulisan di buku, atau obyek hidup di depan mata. Bisa juga kemudian Kita abadikan dalam foto. Ini membuat Kita dan keluarga senang dan bersyukur menikmati keindahan tersebut. Juga membuat kita lebih peka terhadap alam sekitar, bahagia, tenang dan meningkatkan kreativitas.
  3. Setiap hari, tanyakan anak 3 hal baik apa yang mereka sukai. Bisa jadi merupakan hal yang terlihat sederhana. Misal, saat jam istirahat di sekolah diajak bermain permainan baru, memakai kaos favorit, menonton acara kesukaan di TV dan sebagainya. Hal ini pun dapat dilakukan kapan saja, misalnya sebelum tidur, saat berada di perjalanan ke sekolah, saat bersantai di ruang keluarga, atau situasi apapun. Syaratnya adalah yang disebutkan adalah hal yang baru saja dialami hari tersebut. Hal ini pun melatih agar anak selalu terkait dengan saat ini (di sini dan kini) dan mengenali bahwa waktu yang dimiliki saat ini adalah hal yang juga patut disyukurinya. Latihan ini mengembangkan berbagai emosi positif seperti antisipasi dan kegembiraan yang akan datang, kebaikan dan kasih sayang (akan hal yang baik yang mereka lakukan) dan nikmat-nikmat yang anak peroleh.

Seluruh latihan ini menimbulkan emosi positif yang membuat perasaan semakin puas dan menghargai kehidupan, bahkan dalam keadaan yang cukup menantang. Intinya, rasa syukur menolong kita menerima berbagai hadiah yang memang sudah tersedia untuk kita hargai dan nikmati. Karenanya sangatlah penting membesarkan anak dipenuhi rasa syukur, yang dimulai dan dari Kita langsung contohkan padanya.

No comments yet

Leave a Reply