Melatih Kesabaran

22 Feb '12

Katanya, sabar itu ada batasnya! Tapi apa benar begitu? Kok pada nyatanya sering kali saat menghadapi situasi atau pihak tertentu, ambang batas kita sudah tidak dapat lagi menampungnya, dan si sabar pun ngga tau hilang lenyap entah kemana. Yang tersisa tinggal keinginan untuk segera bertindak memuaskan apa yang selama ini dirasakan, biasanya kemarahan atau kekesalan yang meluap. Sebenarnya, apakah sabar itu sendiri adalah kemampuan menahan diri semata? Atau kemampuan menahan diri yang juga dibarengi dengan strategi lain? Nampaknya, pilihan kedua lebih tepat untuk kita terapkan. Untuk dapat memaknai sabar, kita juga perlu tahu sebenarnya apa sebenarnya sabar itu?

Dalam bulan puasa yang saat ini sedang dijalankan oleh sebagian umat beragama Islam, berpuasa juga salah satu bentuk melatih kesabaran. Bagaimana tidak, yang biasanya saat hari panas dan terasa haus dengan bebasnya kita bisa segera minum es yang segar, saat puasa kita diminta untuk bersabar menunggu waktu berbuka. Jelas terlihat bahwa kesabaran yang dibentuk adalah menahan nafsu yang sifatnya lebih konkrit, yaitu nafsu/keinginan makan dan minum. Pada kesehariannya, yang sering terjadi adalah 1 bulan berpuasa pun ternyata kurang cukup agar kesabaran bisa diterapkan di 11 bulan lainnya, apalagi kalau yang berkaitan dengan masalah emosi. Teman kantor yang menjengkelkan, boss yang semena-mena kasih tugas super banyak, pasangan yang menuntut ini itu di saat kita lelah, dan banyak lagi situasi yang membuat kesabaran sepertinya menjadi obyek yang selalu menderita.

Satu-satunya cara adalah memperluas dan meningkatkan kesabaran itu sendiri. Ya, batasnya terus dan terus diperbesar. Tapi apa iya semudah itu? Kalau Anda lebih memahami apa itu sabar, semoga jalannya jadi lebih mudah. Nah, ini dia!

  1. Sabar tidak berarti menyerah atau pasrah. Sabar adalah kondisi dimana seorang mampu menerima suatu keadaan sepenuhnya dengan kesadaran dan pandangan yang jernih.
  2. Sabar bukanlah kelemahan, tapi kekuatan untuk bertahan mencapai situasi dalam diri menerima sepenuhnya atas hal-hal yang tidak dapat kita tentukan, apakah nantinya berhasil kita ubah atau pun akan tetap sama.
  3. Sabar juga tidak berarti berdiam diri, tapi lebih pada kemampuan untuk terus memperjuangkan hal yang membuat bathin kita merasa lebih lega.
  4. Sabar bukan takut mengambil resiko, namun keberanian untuk mengutarakan hal dengan jujur dan tetap diliputi kasih sayang.
  5. Sabar adalah fase mutlak yang harus Anda lewati menuju pribadi yang lebih matang, dewasa dan bijaksana.
  6. Sabar tidak pernah mengenal kekerasan, karena itu sering diasosiasikan dengan menyerah dan hanya diam menunggu. Padahal sabar yang sesungguhnya lebih menekankan tindakan (bukan pasif) dan cara yang positif konstruktif/mambangun (bukan negatif destruktif/merusak).

Nah, dengan konsep di atas, diharapkan kesabaran yang Anda jalankan lebih dapat Anda nikmati, minimal memberikan semangat baru bagi Anda untuk terus melangkah dengan lebih ringan. Misalnya, saat Anda harus menghadapi kinerja rekan di kantor yang buruk, sehingga merusak seluruh tim kerja Anda. Maka kesabaran yang selayaknya dijalankan adalah, pertama menerima bahwa untuk saat ini ia memang memiliki karakter tersebut. Kemudian tetap berusaha memberikannya masukan yang jujur dan obyektif. Ingat, semua dilakukan dengan komunikasi konstruktif dan bukan menyudutkan. Dan begitulah seterusnya yang Anda lakukan. Itulah siklus kesabaran! Menerima, berusaha dan tetap nikmati hidup Anda!

Sabar itu seperti otot, semakin dilatih, maka akan semakin kuat dan membesar. Kini waktu yang baik untuk melatihnya, sudah mampu dan cukup mantapkah Anda untuk merenggangkan kesabaran Anda?

*tulisan ini sudah dimuat di website LG Indonesia 15 Agustus 2011

No comments yet

Leave a Reply