Lari: Terampil Bahagia & Terampil Menderita

31 Aug '14

Pengalaman pertama lari di medan penuh lika-liku, batu dan naik-turun hari ini ngingetin bahwa hidup itu sama seperti lari.

Di permukaan datar seperti di aspal kerasa ringan. Lari bisa sambil tengok kanan kiri, denger musik pake ear phone, bahkan kadang sambil ngobrol.

Di atas gunung beda cerita. Permukaan injak yg lebih menantang, bikin kita (baca: saya, krn blm mahir) harus lebih awas. Setiap langkah ketemu batu yg bentuknya ngga beraturan, tanah licin, plus tanjakan yg bikin ngos2an seketika, membuat saya ngga boleh lengah dan harus lebih hati2 memperhatikan langkah kaki.

Tapi…. kalau rajin latian, saya yakin banget semua kerasa ringan mau apapun medannya.

Dalam hidup, di saat kita terampil di berbagai situasi juga sama. Mau lagi bahagia atau sedih semua bakal kerasa indah.

Jadi, semua itu tergantung dari diri kita sendiri. Mau seberapa mahir kita menangani situasi yg dijumpai. Menjadikan medan yg menantang jadi hal yg bikin nangis bisa. Mau dinikmati (walau harus diakui lebih sulit melewatinya) keindahannya pun bisa banget!

Terus berlatih (belajar). Hidup kan memang area pembelajaran tiada henti hingga akhir hayat. Jadilah terampil di berbagai situasi. Terampil bahagia, juga terampil menderita. Hidup dijamin jadi indah.

Bismillahi walhamdulillah…

No comments yet

Leave a Reply