Kompromi? Lewat Berdebat atau Diskusi?

29 Mar '12

                Dalam menjalani relasi, tentu saja menemui adanya perbedaan pendapat. Entah itu antara suami-istri, anak-orangtua, anak-mertua,atasan-bawahan, dan sebagainya. Kalau tidak hati-hati, justru seringkali perbedaan yang ada justru membawa ketidakpuasan. Bentuk ketidakpuasan tersebut biasanya berwujud menjadi 2 kategori. Pertama, yaitu kekecewaan dimana merasa apa yang ingin diungkapkan atau tujuan akhir pribadi tidak tercapai. Hal ini biasanya juga dipengaruhi budaya mengalah (yang pada wujudnya bisa dinilai suatu hal positif, namun yang dirasakan di dasar hati adalah perasaan terbebani), atau merasa tidak enak jika berusaha mengutarakan pendapat dan mempertahankannya. Kedua, pertengkaran jika kedua pihak merasa tidak menemukan kata sepakat sehingga relasi yang selanjutnya berjalan menjadi kurang harmonis, semakin dingin atau menjauh karena perbedaan yanga ada.

Anda sendiri termasuk golongan yang mana? Jika Anda merasa lebih baik mundur, malas berdebat, tidak berkata apa-apa dan mengalah, berarti Anda masuk ke kategori 1. Sedangkan jika Anda orang yang ekspresif, terbuka namun berikutnya diiringi ketidaknyamanan melanjutkan relasi dengan orang yang berbeda isi pikiran dan pendapatnya, Anda berada di kategori 2.

Sudah jelas dan dapat dipastikan pada akhirnya kedua kategori yang diuraikan di atas tidak membawa kelegaan hati, kedamaian dan pemecahan bagi Anda dan pihak lain yang sedang berusaha menangani suatu situasi. Jika Anda merasa sering di posisi tersebut, kenapa tidak mencoba untuk berkompromi? Tapi lagi-lagi, Anda harus berhati-hati karena kompromi itu pun bisa dilakukan dengan cara diskusi dan berdebat. Untuk itu, yuk kita telaah lebih dulu apa perbedaan keduanya. Diskusi adalah bertukar pikiran mengenai suatu hal. Sedangkan berdebat adalah mengeluarkan pendapat dan berusaha mempertahankan pendapatnya masing-masing. Nah, dari arti katanya saja sudah sangat berbeda. Yang sering jadi kendala dalam berelasi adalah, apa yang sebenarnya memiliki tujuan diskusi menjadi perdebatan. Untuk itu jika Anda berada dalam perbedaan, cobalah perhatikan hal-hal di bawah ini:

  1. Pada situasi misalnya Anda ingin A, sedangkan pihak lain merasa B yang terbaik, maka Anda memiliki kecenderungan menginginkan agar pihak lain menerima dan melakukan apa yang Anda harapkan. Memang perlu kerjasama kedua pihak untuk sama-sama berkompromi. Namun Anda pun harus ingat, bahwa perbedaan tersebut tidaklah harus selalu menjadi sejalan dan perbedaan itu bisa saja terus menetap.
  2. Cobalah untuk berkomunikasi dengan tujuan berdiskusi (ingat ya, diskusi tidak sama dengan berdebat). Karena itu, jika pada akhirnya perbedaan tetap ada hargailah dan jangan biarkan menjelma menjadi pertengkaran.
  3. Ekspresikan apa yang Anda rasa dan inginkan dan jelaskan pandangan-pandangan Anda. Di sisi lain, dengarkan juga pandangannya.
  4. Jika memungkinkan, Anda dan ia bersama-sama berdiskusi menemukan yang terbaik. Karena judulnya diskusi, artinya kedua pihak terbuka untuk mendengar pendapat dari pihak lain.
  5. Menurut Anda pihak lain yang Anda ajak bicara tetap saja sulit berdiskusi dan menawarkan nuansa pertengkaran? Kenapa jadi bingung dan kesal? Kan kini Anda sudah tau makna diskusi untuk berkompromi intinya adalah mengutarakan pendapat dan bertukar pikiran. Kalau memang tetap berbeda dan terasa sulit untuk mencari kesepakatan bersama, memang tidak perlu memaksa orang lain memiliki pandangan yang sama dengan yang Anda anggap paling benar. Yang lebih penting lagi, tidak diterimanya pendapat Anda bukan alasan untuk bermusuhan kan? Hidup terasa lebih indah dengan adanya perbedaan dan saling menghargai.

*seperti sudah dimuat di website LG INdonesia, Oktober 2011

No comments yet

Leave a Reply