Forgive & Forget? Memang bisa?

19 Jul '12


Menjelang akhir bulan puasa dan lebaran, biasanya diikuti dengan tradisi silaturahmi. Tidak lupa kesempatan untuk bermaaf-maafan. Sejatinya, dengan maaf (baik meminta maaf atau memberi maaf) membuat kita kembali menjadi individu yang bersih, karena tidak lagi menyimpan amarah, dendam, kesal pada orang yang sebelumnya (minimal menurut kita) pernah menyakiti.

Forgive and forget, yang artinya maafkan dan lupakan (kesalahannya)! Pasti Anda sudah sering mendengar kalimat tersebut. Apa iya bisa? Dengan segala kekecewaan yang pernah digoreskan seseorang pada kita, lalu kita diminta memaafkan dan melupakan? Apa bisa?

Memaafkan adalah proses hati. Melupakan adalah proses otak. Hati melakukan tugasnya dengan merasa lapang dan mau menerima apa yang telah terjadi. Sedangkan proses di otak adalah melupakan. Apakah ini berarti menghapus jejak memori yang sudah ada? Sebagai tes sederhana, coba sekarang Anda bayangkan gajah yang sangat besar di pelupuk mata Anda. Oke, kini hilangkan bayangan itu sekarang! Sulit? Artinya, proses di otak yang sudah terekam memang tidak bisa serta merta dihapus. Sering kali ingatan akan peristiwa yang sifatnya netral saja tidak bisa dihapuskan (misal, saat makan bersama teman SMA minggu lalu), apalagi peristiwa yang menggoreskan sesuatu (baca: luka) mendalam? Lalu, bagaimana melupakannya?

Salah satu prinsip kerja otak adalah apa yang Anda tolak, justru semakin kuat berada “menghantui” Anda. Karena itu pula, ternyata formulanya bukanlah memafkan dan melupakan. Adalah memaafkan dan menerima, hal yang lebih ideal dan sejalan. Ya, forgive and accept! Dua-duanya adalah kerja hati, dan untuk mencapainya ada beberapa pemahaman yang bisa membantu Anda.

  1. Sadari apa yang membuat proses memaafkan atau meminta maaf sulit Anda lakukan. Lalu coba hayati lagi, adakah gunanya menabung kemarahan Anda di hati?
  2. Memperhatikan apa yang Anda rasakan adalah memisahkan diri dengan rasa yang Anda miliki. Saat Anda marah, sudah pasti Anda tidak bisa melihat dengan jernih kemarahan itu. Coba ambil jarak dengan rasa marah tersebut agar Anda dapat berpikir jernih. Contoh, Anda dalam mobil, Anda tidak akan tau bentuk mobil itu seperti apa. Baru setelah Anda berada di luar mobil, Anda dapat jelas melihat fisik mobil keseluruhan.
  3. Menerima bahwa apapun itu, termasuk di dalamnya amarah atau kekesalan adalah bagian dari proses hidup yang memang Anda rasa. Artinya, sudah tidak bisa diubah dan yang bisa dilakukan adalah menerimanya dengan lapang dada.
  4. Apapun yang Anda rasakan adalah bagian dari rasa atau emosi. Senang, bahagia, khawatir, marah, kesal semua adalah bagian dari emosi. Lalu kenapa saat yang terasa mengenakkan datang (senang dan bahagia) kita cenderung berusaha mencengkeramnya dan tidak ingin lepas? Namun saat yang datang terasa tidak enak (marah, kesal dll) kita semakin memusuhinya? Jika pemahaman bahwa semua itu adalah sama-sama rasa sudah kita dapatkan, artinya apapun yang datang bisa kita jadikan sahabat.
  5. Untuk itu, cobalah merangkul dan menjadikan semua rasa yang datang sebagai sahabat. Terima kehadirannya dan pandanglah dengan jernih, apakah layak terus memeliharanya? Membiarkan rasa marah di hati sama seperti memenjarakan diri. Karena seyogyanya memaafkan (dan meminta maaf) bermanfaat untuk diri sendiri, bukan untuk orang yang kita maafkan atau mintai maaf.

Maaf adalah obat mujarab untuk segala luka yang Anda rasakan. Termasuk memaafkan diri sendiri atas hal-hal yang pernah Anda sesali. Nah, sudah siapkan Anda melepaskan diri dari rasa yang membelenggu Anda?

*sudah dimuat di website LG Indonesia, 2011

No comments yet

Leave a Reply