Apa yang Terjadi di Otak Anda Saat Menonton?

5 Apr '12

Tahukah apa yang terjadi di otak Anda saat di hadapan Anda terpampang tontonan yang Anda nikmati? Berdasarkan tulisan dari Joanne Cantor, Ph.D, di situs Psychology Today, terdapat efek jangka panjang menonton film yang menakutkan. Dalam penelitian yang diadakan di Amerika, para sampel diminta menyebutkan judul film yang membuat mereka takut dan situasi harian yang berkaitan dengan film tersebut. Misalnya banyak yang merasa tidak lagi mau berenang di pantai setelah melihat film Jaws, cemas mandi dalam area shower setelah menonton film Psycho. Sedangkan pada film bertema keluarga seperti The Sound of Music, film anak-anak seperti kartun Bambi dan acara pendidikan TV seperti Sesame Street tidak menyisakan efek tertentu bagi para penonton dewasa.

Joseph LeDoux, seorang ilmuwan neurologis yang mempelajari rasa takut menyebutkan bahwa reaksi takut terhadap peristiwa hidup yang mengancam teridentifikasi 2 area otak, yaitu 1) prefrontal korteks, yang meliputi respon takut, 2) amigdala, area yang melibatkan penalaran kesadaran dan area bawah yang berbentuk almond. Area-area tersebut sangat berkaitan erat dengan emosi.

Saat Anda memiliki reaksi takut yang tinggi, bagian amigdala akan berespon lebih cepat dan menciptakan respon fisik yang cenderung melawan ketakutan tersebut. Serebral korteks memerlukan waktu lebih lama untuk bereaksi dimana secara sadar mengevaluasi apakah itu menakutkan bagi Anda atau tidak.

Pada dasarnya sistem takut ada untuk menolong individu bertahan dari situasi yang mengamcam. Menurut LeDoux penting bagi memori kita terus menyimpan pengalaman ketakutan yang intens. Dengan cara ini, kita mempersiapkan diri agar tetap aman jika menemui kembali situasi yang sama. Penelitian membuktikan bahwa walaupun kesadaran memori kita akan hal traumatis tidaklah selalu tepat  dan semakin lunak dengan berjalannya waktu, memori akan hal yang terekan sebagai hal menakutkan dalam amigdala sangat sulit berubah.

Reaksi kita terhadap film sering kali tidaklah rasional. Walaupun kita tahu hanyalah film yang ditonton, jika kita sangat ketakutan maka amigdala kita akan menampung memori seperti hidup kita tergantung pada hal tersebut. Jadi, jika misalnya film Jaws yang membuat trauma kita saat kecil, dan terus terbawa menjadi takut untuk berenang hingga saat ini. Daya nalar kita mungkin mengatakan bahwa tidak ada ikan paus di kolam, namun jantung kita seketika berdegub lebih kencang dan otomatis berancang-ancang untuk menghindari situasi tersebut.

Perlu diingat bahwa menurut teori neurologis, otak kita sudah berkembang dari waktu yang telah lama sebelumnya, bahkan sebelum realitas dihadirkan langsung. Karenanya jika Anda melihat hewan ganas, penghancuran alam,  Anda mungkin merasa terancam. Nyatanya, hal semacam itu kita lihat setiap harinya dari berbagai macam media. Dan walaupun secara logika kita dalam keadaan aman, amigdala kita tidaklah “menganggap”demikian. Bahkan sebagai orang dewasa, emosi kita bisa sangat kuat dipengaruhi apa yang kita tonton, walau kita tahu itu tidak masuk akal. Dan emosi yang mengikuti apa yang kita tonton sulit dilepaskan.

Cara melepasnya? Sadarilah, apakah Anda merasa perlu atau tidak perlu menonton dan dampak dari apa yang akan Anda tonton. Ingatlah bahwa area amigdala selalu bekerja saat anda memilih apa yang akan Anda tonton. Dengan demikian Anda lebih bijaksana menentukan apa yang akan Anda rekam di memori Anda.

*seperti telah dimuat di website LG, Maret 2012

No comments yet

Leave a Reply