Apa Pola Komunikasi Anda?

22 Feb '12

Sebagian besar masalah dalam berelasi bersumber utama dari kurang mampunya berkomunikasi. Bagaimana pesan disampaikan dan diterima kurang akurat, dapat menyebabkan makna dan pemahaman yang berbeda. Nah, kita sebenarnya sudah tau belum pola komunikasi apa yang selama ini kita jalankan? Jangan-jangan, karena ketidaktahuan itulah yang yang justru membuat kita kurang memahami seni berkomunikasi. Dalam waktu luang kali ini, yuk sama-sama kita telusuri, sejauh mana pola komunikasi yang kita miliki?

Sering kali orang lupa bahwa komunikasi tidak sekedar mengungkapkan ide yang ingin kita sampaikan pada orang lain. Tapi komunikasi pun termasuk juga mendengarkan. Ya, mendengar dan mengekspresikan adalah dua hal yang sama-sama berperan dalam berkomunikasi. Bagaimana kita bisa mengungkapkan ide dengan optimal, jika sebelumnya kita tidak mendengar dan memahami terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan? Ini aspek yang sering kita lupakan karena manusia pada dasarnya memiliki memiliki sisi ego, yaitu keinginan untuk selalu menampilkan diri lebih dari yang lain. Makanya, bicara komunikasi sering kali kemampuan mendengar terlupakan. Padahal ini penting lho!

Cara yang paling baik dalam mendengarkan dalah hadir sepenuhnya saat lawan bicara sedang berbicara. Hadir bukan dalam wujud fisik, tapi yang penting juga adalah dengan segenap hati dan penuh perhatian. Menyerap, menerima dan memahami yang lawan bicara ungkapkan, tanpa perlu memotong selama ia bicara. Ungkapkan apa akan Anda sampaikan, setelah ia selesai mengemukakan. Nah, selanjutnya seni komunikasi dalam aspek mengungkap ide bisa dibagi 3 pola, yaitu: agresif, submisif dan asertif. Baca deh keterangan di bawah ini.

  1. Agresif: menyampaikan pesan dengan kecenderungan menyinggung, menyudutkan, memerintah dan berada di atas lawan bicara. Contohnya dalam situasi dengan pasangan. Ambil saja contoh saat pasangan menyiapkan hidangan sebagai bekal makan siang  yang tidak sesuai dengan selera Anda, dan yang Anda kemukakan adalah, “Wah, kamu pengen saya mati kelaparan ya kalau cuma makan ini saja?”.  Di sini terlihat bahwa apa yang disampaikan tidak tepat sasaran dan justru menderung menyepelekan dan ada unsur mencerca.
  2. Submisif: menyampaikan isi hati dengan ketidakmampuan berterus terang yang diungkapkan kurang konkrit dan cenderung lari dari tujuan utama yang ingin disampaikan. Dalam kasus yang sama seperti di atas, misalnya ungkapan yang keluar adalah, “Saya sebenarnya ngga suka dengan apa yang sudah kamu siapkan, tapi ngga apa deh.” Nampak bahwa pesan yang disampaikan samar dan juga belum tepat sasaran.
  3. Asertif: menyampaikan ekspresi hati dengan jujur, jelas dan tidak pula disertai unsur subyektif yang bisa bermakna ganda. Dalam kasus yang sama, contoh, “Saya berterimakasih sekali dengan apa yang kamu siapkan. Roti isi selai kacang memang enak untuk sarapan, tapi kalau dijadikan makan siang, kebutuhan perut saya lebih besar dari ini. Apakah bisa jika lain waktu menyesuaikan dengan nafsu makan saya yang besar, misalnya nasi goreng.” Begini terdengar lebih jelas, maksud tersampaikan dan tidak ada intensi lain selain menyampaikan sesuai maksud yang dituju.

Dengan lebih memahami ini, semoga Anda pun dapat mengembangkan pola komunikasi yang lebih baik, terhadap pasangan, keluarga besar, rekan kerja,  dan siapa saja yang menjadi lawan bicara Anda.

*tulisan di atas sudah dimuat di website LG Indonesia pada 30 Juli 2011

No comments yet

Leave a Reply