3 Langkah Menyikapi Perasaan Tidak Nyaman

18 Jun '12

Sering kali manusia yakin bahwa lingkungan dan kejadian di luar dirinya-lah yang membuatnya tidak nyaman dan memiliki perasaan ketidakpuasan. Jika tidak mengenal dan menyikapi dengan tepat, hal itu bisa merusak diri dan bahkan lebih jauh cenderung merugikan orang lain. Contohnya, melihat suatu hal dan membuat iri. Secara umum, membandingkan berkaitan erat dengan rendahnya harga diri, karena membandingkan dengan kata lain adalah putus asa. Namun nyatanya, rasa iri seringkali muncul begitu saja, sama seperti benci, sedih atau emosi lainnya. Biasanya emosi itu hadir karena ada cerita yang melatarbelakanginya, sehingga kita tidak kuasa untuk tidak menghalau rasa yang muncul tersebut. Lalu bagaimana menyikapi jika perasaan itu muncul? Menurut Nadja Geipert in dalam bukunya Eye of the Storm terdapat 3 langkah:

  1. Terima apa yang dirasakan. Banyak buku, seminar, kolom pendapat yang mengatakan untuk mendapatkan kebahagiaan harus melawan perasan buruk yang muncul. Penelitian bertahun-tahun menyebutkan bahwa emosi adalah adaptasi dasar untuk bertahan. Iri, marah, sedih, kecewa (yang sering kali disebut sebagai perasaan negatif, walaupun belum tentu mengakibatkan dampak negative jika tahu cara menyikapinya) adalah sinyal yang memberitahukan manusia bahwa kita tidak menyukai apa yang dikerjakan, atau saat bersama pasangan, teman atau aspek kehidupan lain. Jika kita memberikan tuntutan diri dan menganggap bahwa realitas emosi seharusnya diubah, maka seringkali hal ini justru semakin memberatkan. Karena pada dasarnya manusia tidak suka dengan perubahan, bahkan untuk perubahan yang lebih baik sekalipun. Jadi tidaklah perlu untuk melawan dan mengingkari perasan itu. Dengan mengacuhkannya, kita mengingkari kesempatan untuk belajar tentang diri kita.
  2. Hal kedua adalah memverbalisasikan apa yang dirasakan dalam kalimat yang sederhana. Kita membutuhkan lingkungan yang mampu berempati. Bisa jadi teman, kelompok pendukung, anggota keluarga, pasangan, terapis dan lainnya. Peran ini mungkin tidak selalu siap di samping Anda, karena banyak orang walaupun ia bertujuan baik , namun mereka tidak mampu mentolerir kesakitan orang lain (karena bisa jadi akan memicu kesakitannya). Sosok yang tepat adalah saat Anda menceritakannya, jangan biarkan orang yang mendengar tersebut menahan penjelasan Anda saat menguraikannya. Misalnya dengan memberikan komentar seperti: mungkin orang yang menyakiti Anda tidak bermaksud demikian, perasaan Anda normal saja, mungkin ini dan itu. Yang sebenarnya adalah, itu memang yang Anda rasakan dan dengan memverbalisasikannya Anda berusaha mengikuti ke dalam pikiran yang kurang disadari. Pilihlah sosok yang bijaksana dan kita pun semakin mampu menelusuri bahwa apa yang kita rasakan memiliki makna tertentu.
  3. Mengeksplorasi. Beberapa pertanyaan baik untuk ditanyakan pada diri Anda selama proses merasakan sesuatu emosi: apakah saya perlu di keadaan ini? Apakah saya menginginkan apa yang seharusnya tidak saya dapatkan? Apakah orang tersebut (misalnya yang membuat iri) mendapat yang saya inginkan? Apa yang bisa saya lakukan untuk mendapatkannya dan apa yang menghalanginya?

Jawaban dari apa yang Anda eksplorasi tentang emosi dan perasan Anda sebenarnya sangatlah sederhana. Yaitu, perasaan yang muncul sebenarnya adalah dari keinginan yang tidak terpenuhi. Proses “penemuan” kesadaran ini akan melegakan Anda karena memberikan jawaban apa yangs ebenarnya Anda inginkan. Di sisi lain membuat lebih kuat karena Anda mendapat sudut pandang baru bahwa Anda pun dapat menyikapinya, tanpa perlu berlama-lama memendam ketidaknyamanan apa yang Anda rasakan. Di saat ke-3 tahap sudah Anda lalui dan kesadaran Anda mengenai perasaan tersebut semakin jelas, sering kali Anda pun menemukan bahwa bisa jadi karena ada memori sebelumnya yang sebenarnya tidak diiinginkan untuk datang lagi.

“Perhatikan jiwa kita, ketahui, jika mengetahui maka kita akan belajar bagaimana merawatnya”-Socrates

No comments yet

Leave a Reply